Penjelasan tentang I'rab dan Bina'

BAHASA ARAB
“ PEMBAHASAN TENTANG  I’RAB DAN BINA’ “

Combined By  : Hafizul Khairi



A.    PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi. Terutama dalam  memahami ilmu agama yang mana bersumber dari al Qur’an dan al-Hadist.
Nahwu merupakan salah satu cabang dari sekian cabang disiplin ilmu yang wajib dipelajari apabila seseorang ingin menguasai Al Qur'an maupun al Hadits yang notabene berbahasa Arab. Ilmu nahwu dan ilmu sharaf menjadi cabang ilmu yang tak terpisahkan dari Bahasa Arab. Akan tetapi, tidak semua orang dapat memahami ilmu nahwu dengan baik. Banyak pembahasan dalam ilmu nahwu yang dapat dikatakan lebih sulit dipahami dari pada pembahasan yang lain, seperti: pembahasan mengenai bab i’rab. Hal ini karena hampir setiap kata dalam Bahasa Arab memiliki “I’rab”, dan setiap I’rab memiliki pembagian masing – masing.
Namun ketika manusia itu mau berusaha, maka Allah akan memberinya kemudahan. Berdasarkan firman Allah:
وَالَّذِينَ جاهَدُوا فِينا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ . سورة الْعَنْكَبُوتِ: 69
Dan orang-orang yang mempersungguh didalam mencari keridhaan-Ku (Allah), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.. (QS. al-Ankabut: 69).
2.      Rumusan Masalah
1.      Apa itu I’rab ?
2.      Apa itu Bina’ ?
3.      Apasajakah macam macam I’rab?
4.      Apasajakah macam macam Bina’ ?

B.      PEMBAHASAN TENTANG I’RAB DAN BINA’
1.    Pengertian I’rab
Kata I’rab (إعراب) secara bahasa memiliki arti “baris” atau juga “Harkat”, Kata i’rab ada juga yang mengatakan berasa dari bahasa arab yang mempunyai arti perubahan.[1] Adapun pengertian i’rab menurut ilmu nahwu yaitu :

تَغْيِيرُ اَوَاخِرِ الكَلِمِ لِاخْتِلَافِ العَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيهَا لَفْظًا اَوْ تَقْدِيرًا

Artinya: Perubahan akhir kata karena masuknya amil[2] ( yang memerintah ) yang berbeda-beda, baik secara lafadz maupun secara dikira-kirakan keberadaannya..[3]
Maksudnya; I’rab itu mengubah syakal ( Harkat ) tiap-tiap akhir kalimat disesuaikan dengan fungsi amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafazhnya atau hanya secara diperkirakan saja keberadaannya.
Perubahan secara lafadz itu seperti contoh berikut:
 جَاءَ زَيْدٌZaid telah datang.=
 رَأَيْتُ زَيْدًا  Aku telah melihat Zaid. =
  مَرَرْتُ بِزَيْدٍ   Aku telah bertemu dengan Zaid =
Sedangkan perubahan yang dikira-kirakan keberadaannya adalah seperti dlam contoh berikut:
 جَاءَ الْفَتَى  = Seorang pemuda telah datang.=
 رَأَيْتُ الْفَتَى  = Aku telah melihat seorang pemuda.=
 [4]مَرَرْتُ بِالْفَتَى  = Aku telah bertemu dengan seorang pemuda.=  
Menurut pendapat Musthafa al-Ghalayain dan Ahmad al-Hasyimi. Mereka menyatakan bahwa i’rab adalah perubahan akhir kata karena perbedaan amil-amil yang masuk pada kata yang dimaksud.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan i’rab adalah perubahan harkat akhir pada sebuah kalimat dalam bahasa arab yang disebabkan adanya perbedaan ‘amil, baik perubahan harkat itu fathah, kasrah, dhammah, atau sukun.


      2.     Pembagian I’rab

وَأَقْسَامُهُ أَرْبَعَة:رَفْعٌ، وَنَصْبٌ، وَخَفْضٌ، وَجَزْمٌ.فللأسماءِ مِنْ ذَلكَ الرَّفْعُ، وَالنَّصْبُ، وَالخَفْضُ، وَلا جَزْمَ فيها.وللأفعال مِنْ ذَلكَ الرَّفْعُ، وَالنَّصْبُ، وَالجَزْمُ، وَلا خَفْضَ فيها.
I'rab dibagi menjadi 4, yaitu: rafa', nashab, khfadl dan jazm, yang bisa masuk pada kalimah isim adalah Rafa’nashab dan Khafdl, tidak ada jazmdidalam isim. Yang bisa masuk pada kalimah fiil yaitu Rafa’, nashob dan jazm, tidak ada Khafdl di dalam fiil.[5]

a.       Rafa’

Yaitu perubahan yang khusus, yang ditandai dengan dlomah atau yang menggantinya. Dinamakan Rafa’ (yang secara bahasa artinya luhur), karena terangkatnya dua bibir krtika mengucap dlomah. I'rob bisa masuk pada kalimah isim dan fiil.
Contoh: قلمٌ , كتابٌ
Penjelasan : Tanda asli dari i’rab rafa' adalah Harkat akhir dhammah. Bisa dilihat pada contoh di atas, semuanya memiliki Harkat akhir dhammah / dhammatain. Di sini digunakan istilah tanda "asli" karena tidak selamanya demikian. Ada juga kata yang memiliki i’rab rafa' tapi tidak berHarkatakhir dhammah. Kelompok kata yang berada dalam kondisi rafa' disebut dengan marfu'.
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ... سورة يوسف: 2
Waktu itu Yusuf berkata pada bapaknya…(QS. Yusuf: 2).
للرفع اربع علامات الضمة والواو والف والنون
I’rab Rafa’ itu mempunyai empat tanda, yaitu; dhammah, wawu, alif, nun.”        
Maksudnya; Alamat I’rab rafa’ ada empat macam ciri ciri nya, yaitu sebagai berikut;

1)      Harkat Dhammah

Harkat dhammah menjadi ciri i’rab rafa’ terdapat di empat tempat, yaitu;
1)      Isim mufrad, yaitu kata benda yang menunjukkan makna tunggal. Contoh;
قَرَأَ مُحَمَّدٌ القرأنَ
2)      Jamak taksir yaitu lafadz yang menunjukkan arti banyak dan tidak terikt pada objek perempuan maupun laki-laki. Biasanya, bentuk ini merupakan sistem sima’i dari penutur aslinya (orang-orang Arab). Jamak taksir juga dapat dimaknai suatu lafadz yang menunjukkan arti banyak yang bentuk lafadznya berubah dari bentuk tunggalnya. Misalnya; طلب menjadi طلاب , contoh;
جاء الطلاب في المدرسةِ
3)      Jamak mu’annast salim, yatu lafadz yang menunjukkan makna jamak (banyak) yang dikhususkan pada objek perempuan. Dan biasanya di aakhiri dengan huruf alif dan ta’. Contoh;
جائتْ المسلماتُ في المسجدِ
4)      Fi’il mudhari’ yang tidak bertemu dengan dhamir sya’an atau huruf ‘ilat yakni alif tatsniyah, wawu jamak, dan yak mu’annast mukhtatabah).
Contoh;
يذهبُ فلانٌ الى السو

2)      Huruf  Wawu

Huruf wawu menjadi tanda atau ciri i’rab rafa’ pada hakikatnya adalah sebagai pengganti dari tanda dhammah.Tanda wawu sebagai ciri dari i’rab rafa’ bertempat di dua tempat, yaitu;
a)      Jamak mudzakar salim, yaitu suatu kata yang menunjukkan makna jamak yang dikhusukan pada objek laki-laki, dan biasanya di akhiri dengan huruf wawu dan nun  (و نpada tingkah rafa’ dan di akhiri ya’ dan nun (ين) pada tingkah nasab dan jer. Contoh;
اولئك هم المفلحون
b)      Asma’ul khamsah, yaitu isim-isim lima yakni (اب، اخ، حم، فو، ذو). Contoh;
جَاءَ اَبُوْكَ، اَخُوْكَ، حَمُوْكَ، فُوْكَ، ذُوْ مَالٍ.

3)      Huruf Alif

Huruf alif menjadi ciri atau tanda i’rab rafa’ pada hakikatnya sebagai pengganti dari tanda Harkat dhammah. Huruf alif sebagai tanda i’rab rafa’ bertempat di satu tempat, yaitu isim tatsniyah.
Isim tatsniyah adalah suatu kata benda yang menunjukkan makna dua. Isim tatssniyah biasanya di akhiri dengan huruf alif dan nun (أ ن) ketika rafa’, dan di akhiri ya’ dan nun (ين) ketikaa tingkah nasab dan jar. Contoh;
احمدٌ وحسنٌ طالبان جديدان

4)      Huruf Nun

Nun menjadi tanda bagi i’rab rafa’ itu bertempat pada fi’il mudhari’ yang bertemu dengan;
a)      Dhamir tastniyah, contoh;
يفعلان، تفعلان
b)      Dhamir jamak, contoh;
يفعلون، تفعلون
c)      Dhamir muannas mukhatabah, contoh;
تفعلين

b.      Nashab

Yaitu perubahan yang khusus, yang ditandai dengan fathah atau yang menggantinya. Dinamakan nashob (yang secara bahasa artinya rata / istiqomah), dikarenakan ratanya bibir ketika mengucap fathah, I'rob nashob bisa masuk pada kalimah isim dan fiil.
Contoh: قلمًا , كتابًا
Penjelasan : Kata yang beri’rab nashab biasanya berHarkat akhir fathah (tanda asli).Kelompok kata yang berada dalam kondisi nashab disebut dengan manshub.
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ . سورة لقمان: 13 .
Sesungguhnya syirik itu penganiayaan yang besar. (QS. Luqman: 13)
قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ. سورة طه: 91
Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami". (QS. Taha: 91)
وللنصب خمس علامات الفتحة والالف والكسرة والياء وحذف النون                     
I’rab nashab mempunyai ima alamat, yaitu; fathah, alif, kasrah, ya’, dan hadfunnun (menghilangkan huruf nun).
Maksudnya; i’rab nashab itu mempunyai lima tanda, yaitu:
1)      Fathah, menjadi alamat pokok (tanda asli) i’rab nashab. Contoh;
عَرَفْتُ بَكْرًا          = Aku telah mengenal Bakar.
رَاَيْتُ زَيْدًا           = Aku telah melihat Zaid.
2)      Alif, sebagai pengganti fathah, contoh;
عَرَفْتُ اَخَاكَ         = Aku telah mengenaal saudaraku.
رَاَيْتُ اَبَاكَ            = Aku telah melihat ayahku.
3)      Kasrah, sebagai pengganti fathah. Contoh;
عَرَفْتُ الْمُعَلِّمَاتِ    = Aku telah mengenal guru-guru wanita.
رَاَيْتُ الْمُسْلِمَاتِ     = Aku telah melihat guru-guru wanita.
4)      Ya’, juga sebagai pengganti fathah. Contoh;
رَاَيْتُ الزَّيْدِيْنَ        = Aku telah melihat Zaid-Zaid.
رَاَيْتُ الزَّيْدَبْنَ        = Aku telah Melihat dua Zaid.
5)      Menghilangkan huruf nun, contoh;
لن تفعلي             = Kamu (seorang perempuan) tidak akan dapat berbuat.
لن تفعلوا             = Kamu semua (perempuan) tidak akan dapat berbuat.
لن يفعلوا             = Kamu semua (laki-laki) tidak akan dapat berbuat.
لن تفعلا              = Kamu berdua (perempuan) tidak akan dapat berbuat.
لن يفعلا              = Kamu berdua (laki-laki) tidak akan dapat berbuat.

Tanda-tanda I’rab Nashab :

a)      Harkat Fathah

Harkat fathah adalah ciri utama dari i’rab nashab. Sebagai ciri utama dari i’rab nashab, Harkat fathah dapat dijumpai dalam tiga tempat. Ketiga tempat tersebut adalah isim mufrad, jamak taksir, fi’il mudhari’ yang dimasuki oleh ‘amil nawashib (‘ami yang menashabkan suatu kata). Untuk mempermudah pemahaman kita tentang hal ini, alangkah baiknya kita menyimak contoh beriktu;
a)      Isim Mufrad, contohnya; قرأتُ القرأنَ
b)      Jamak taksir, contohnya;اشتريْتُ الكُتُبَ
c)      Fi’il mudhari’ yang kemaasukan ‘amil nawashib, contoh;[2]لن يذهب محمدٌ الى السُّوقِ

b)      Huruf Alif

Huruf alif menjadi ciri dari i’rab nashab dapat dijumpai pada satu tempat, yaitu asm’aul khamsah (isim lima) yakni اباك، اخاك، حماك، فاك، ذا مال. Untuk mempermudah pemahaman kita, mari kita melihat contoh di bawah ini;
رايتُ ابَاكَ في السوقِ

c)      Harkat Kasrah

Harkat kasrah menjadi tanda pengenal dari i’rab nashab sebagai pengganti dari tanda Harkat fathah. Ciri ini berposisi pada satu tempat, yaitu jamak muannast salim. Untuk lebih jelasnya, lihatlah contoh berikut;
خلق اللهُ السمواتِ

d)      Huruf Ya’

Huruf ya’ adalah bagian dari tanda i’rab nashab. Huruf sebagai tanda atau ciri i’rab nashab berada dalam dua tempat, yaitu jamak mudzakar salim dan isim tastniyah. Untuk lebih detailnya kita lihat contoh berikut;
a.    Jamak mudzakar salim, contoh;رايتُ المسلمِيْنَ
b.    Isim tastniyah, contoh;قرأتُ كتابَيْنِ

e)       Hadzfu Nun (membuang nun)

وامّا حذف النون فيكون علامة اانصب في الافعال الخمسة التي رفعها بثبات النون
Membuang (menghilangkan) nun menjadi alamat bagi alamat i’rabnashab pada af’alul khamsah yang di rafa’kaannya dengan memakai nun itsbat (tetap).
Seperti lafadz;
ان يعلما              =Hendaknya kamu (laki-laki) berdua mengetahui.
ان تعلما              =Hendaknya kamu (perempuan) berdua mengetahui.
ان يعلموا             = Hendaknya kamu semua (laki-laki) mengetahui .
ان تعلموا             = Hendaknya kamu semua (perempuan) mengetahui.
ان تعلمي             = Hendaknya kamu (seorang perempuan) mengetahui.[5]

c.      Khafdl

Yaitu perubahan yang tertentu, yang ditandai dengan kasroh atau yang menggantinya. Dinamakan dengan Khafdl (yang secara bahasa artinya turun), karena turunnya bibir ketika mengucap kasroh. I'rob Khafdl hanya ditentukan masuk pada kalimat isim supaya menjadi ta'adul (keseimbangan), dikarenakanKhafdl (kasroh) itu berat, dan isim itu ringan, karena isim itu basid (makna yang ditunjukkan tidak rangkap) hanya menunjukkan pada makna tanpa disertai zaman.
Contoh: قلمٍ , كتابٍ

Penjelasan : Kata yang beri’rab khafdh biasanya ditandai dengan Harkatakhir kasrah (tanda asli). Kelompok kata yang berada dalam kondisi khafdh / jar disebut dengan majrur.
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْواجاً. سورة النصر: 2
Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, (QS. an Nashr: 2)
وللخفض ثلاث علامات الكسرة والياء والفتحة 
I’rab khafadh mempunyai tiga alamat, yaitu; kasrah, ya’, dan fathah.”
Keterangan;
1)      Kasrah, yaitu yang menjadi alamat pokok i’rab khafadh. Contoh;
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ                      = Aku telah bertemu dengan Zaid
بسمِ اللهِ الرّحمنِ الرّحيْمِ       = Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
2)      Ya’, sebagai pengganti kasrah. Contoh;
مررتُ بِزَيْدَيْنِ                   = Aku telah berjumpa dengan dua Zaid.
مررتُ يِالزَّيْدِيْنَ                 = Aku telah berjumpa dengan Zaid banyak.
مررتُ بِاَبِيْكَ                     = Aku telah berumpa dengan ayahmu.
3)      Fathah, sebagai pengganti kasrah. Contoh;
مررتُ بِاَحْمَدَ                    = Aku telah berjumpa dengan Ahmad
مررتُ في مَسَاجِدَ              = Aku telah shalat dibeberapa masjid.
Kata Nadhim;
علامة الحفض التي بها انضبط * كسر وياء ثمّ فتحة فقط
“Alamat khafadh (jer) yang telah ditentukan ialah kasrah, ya’, dan fathah.”

Tanda-tanda I’rab Khafadh (jar)

a) . Harkat Kasrah

Harkat kasrah merupakan tanda pengenal yang paling pokok bagi i’rab jar. Sebuah kata dibaca jar (kasrah) karena adanya huruf jar.
Kasrah menjadi ciri dari i’rab jar bertempat pada tiga tempat, yaitu isim mufrad musharif (yang menerima tanwin), jamak taksir munsharif (yang menerima tanwin), dan jamak muannast salim. Contohnya sebagai berikut;
                    i.            Isim mufrad munsharif, contoh;   كَتَبْتُ بِقَلَمٍ
                  ii.            Jamak taksir munsharif, contoh;   أَقْرَأُ بِكُتُبٍ مُتَنَوِّعَةٍ
                iii.            Jamak muannast salim, contoh;[2]هِيَ تَذْهَبُ اِلَى الْمَسْجِدِ بِمُسْلِمَاتٍ اُخْرَى

b). Huruf Ya’

Sebagaimana telah disinggung pada bagian-bagian terdahulu, ciri yang kedua dan seterusnya dari masing-masing i’rab adalah sebagai pengganti atau badal dari ciri utama atau pertama. Huruf ya’ sebagai badal dari tanda kasrah dalam i’raab jar berada di tiga tempat, yaitu asma’ul khamsah, isim tastniyah, dan jamak mudzakar salim. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan contoh di bawah ini;
                    i.            Asma’ul khamsah , contohnya;   اَذْهَبُ اِلَى السُّوْقِ بِاَخِيْكَ
                  ii.            Isim tatsniyah, contohnya;   أَذْهَبُ اِلَى الْمَكْتَبَةِ بِصَدِيْقَيْنِيْ
                iii.            Jamak mudzakar salim, contohnya;[3]أَدْرُسُ فِيْ الْمَدْرَسَةِ بَالْمُجْتَهِدِيْنَ

c). Harkat Fathah

Ciri ini khusus bertempat di isim ghairu munsharif. Adapun yang disebut isim ghairu munsharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin.
 Lebih jelasnya perhatikan contoh berikut;
ذَهَبْتُ اِلَى مَسَاجِدَ

d.      Jazam

Yaitu perubahan yang tertentu yang ditandai dengan sukun atau yang menggantinya. Dinamakan dengan jazm (yang secara bahasa artinya putusnya harokat), karena putusnya harokat ketika mengucapkan sukun. I'rob jazm hanya tertentu masuk pada kalimah fiil, supaya terjadi ta'adul (keseimbangan), karena ringannya jazm (berupa sukun) dan beratnya fiil karena menunjukkan arti yang rangkap, yaitu makna dan zaman.
Contoh: لاتجْلِسْ , لمْ يَكتبْ
Penjelasan : Kata yang beri’rab jazm biasanya berakhiran sukun / mati (tanda asli). Kelompok kata yang berada dalam kondisi jazm disebut dengan majzum.
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ. سورة لقمان: 13
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, (QS. Luqman: 13).
وللجزم علامتان السكون والحذف
I’rab Jazam mempunyai dua alamat yaitu; sukun dan membuang.”
Maksudnya; i’rab Jazam itu mempunyai duaa tanda, yaitu; sukun yang menjadi tanda pokok dan membuang (menghilangkan) nun tanda rafa’ dan huruf ‘illat. Contoh;
1)      Sukun yang menjadi tanda pokok, seperti;
لَمْ يَنْصُرْ، لَمْ يَضْرِبْ، لَمْ يَكُنْ
2)      Membuang nun tanda rafa’, seperti;
لَمْ يَفْعَلَا، لَمْ تَفْعَلَا، لَمْ يَفعْلُوا، لَمْ تَفْعَلُوا، لَمْ تَفْعَلِى
3)      Membuang huruf ‘illat, seperti; (Baca dari kanan)
 > يَخْشَى   Menjadi لَمْ يَخْشَ   , يَرْمِى   menjadi   لَمْ يَرْمِ 
 “I’rab Jazam pada fi’il-fi’il itu dengan mmakai sukun, atau membuang huruf ‘illat, atau membuang nun (tanda rafa’) pada af’alul khamsah.”

Tanda-tanda I’rab Jazam :

a)      Harkat Sukun

Dalam buku Ilmu Nahwu Terjemah Matan al-Jurumiyah dan ‘Imrithy, karya Moch. Anwar dijelaskan, sebagai berikut;
فاما السكون للجزم في الفعل المضارع الصحيح الاخر
Sukun menjadi alamat bagi i’rab Jazam pada fi’il mudhari’ yang pada bagian akhirnya tidak berhuruf ‘illat, yaitu alif, wawu, dan ya’, seperti; [ لَمْ يَفْعُلْ، لَمْ تَفْعُلْ، لَمْ يَدْخُلْ [2

b)      Hadzfu (membuang)

Membuang itu menjadi tanda bagi i’rab Jazam pada fi’il mudhari’ yang mu’tal akhir (kata yang akhirnya bertemu dengan huruf ‘illat) dan pada fi’i-fi’il yang di-rafa’-kan nya dengan nun tetap. Contoh;
                                i.            Fi’il mudhari’ mu’tal akhir, contoh; (Baca dari arah kanan)
>  يَخْشَى Menjadi لَمْ يَخْشَ ,  يَرْمِى menjadi   لَمْ يَرْمِ , يَدْعُو menjadi لَمْ يَدْعُ .
                              ii.            Fi’il yang di-rafa’-kannya dengan nun tetap (af’alul khamsah[6]). Contoh; (Baca dari Kanan)
>  يفعلان، يفعلان، يفعلون، تفعلون، تفعلين menjadi  لم يفعلا، لم تفعلا، لم يفعلوا، لم تفعلوا، لم تفعلي               
2. Pengertian Bina’ dan Macam- Macamnya
Bina’ adalah isim yang tidak mengalami perubahan pada bagian akhirnya, meskipun amil yang memasukinya berbeda, seperti isim dhamir ( baikmuttashil maupun munfashil ) , isim-isim syarath, isim-isim istifham, isim isim isyarah, isim isim fiil dan isim isim maushul.
            Berikut kami tuliskan contoh-contohnya:
a)     Isim dhamir muttashil, seperti lafazh لَنَا،لَكَ،لَهُdan seterusnya. Isim dhamir munfashil, seperti: أَنَا،أَنْتَ،هُوَ.
b)    Isim syarath, seperti: مَنْ،مَا،مَتَى.
c)     Isim istifham, seperti lafazhهَلْ،كَمْ،كَيْفَ،أَينَ.
d)    Isim isyarah, seperti: هَذَا،هَذِهِ،هَؤُلاَءِ.
e)     Isim fi'il, seperti: حَيَّهَلْ،صَهْ،هَيْهَاتَ،شَتَّانَ.
f)      Isim maushul, seperti: الَّذِيْ،الَّتِي،الَّذِيْنَ،اللّاَتِي

C.     PENUTUP
I’rab adalah perubahan harkat akhir pada sebuah kalimat dalam bahasa arab yang disebabkan adanya perbedaan ‘amil, baik perubahan harkat itu fathah, kasrah, dhammah, atau sukun.
I'rab dibagi menjadi 4, yaitu: rafa', nashab, khfadl dan jazm, yang bisa masuk pada kalimah isim adalah Rafa’, nashob dan Khafdl, tidak ada jazm didalam isim. Yang bisa masuk pada kalimah fiil yaitu Rafa’, nashob dan jazm, tidak adaKhafdl di dalam fiil.
Bina’ adalah kalimat yang ditinjau dari segi hurufnya (tata letaknya), serta dari segi harokat dan matinya huruf.
Bina’ adalah isim yang tidak mengalami perubahan pada bagian akhirnya, meskipun amil yang memasukinya berbeda, seperti isim dhamir ( baik muttashil maupun munfashil ) , isim-isim syarath, isim-isim istifham, isim isim isyarah, isim isim fiil dan isim isim maushul.

Bina’ terbagi  menjadi beberapa macam : Isim dhamir muttashil, seperti lafazh لَنَا،لَكَ،لَهُdan seterusnya. Isim dhamir munfashil, seperti: أَنَا،أَنْتَ،هُوَ.Isim syarath, seperti: مَنْ،مَا،مَتَى.Isim istifham, seperti lafazhهَلْ،كَمْ،كَيْفَ،أَينَ.Isim isyarah, seperti: هَذَا،هَذِهِ،هَؤُلاَءِ.Isim fi'il, seperti: حَيَّهَلْ،صَهْ،هَيْهَاتَ،شَتَّانَ.Isim maushul, seperti:الَّذِيْ،الَّتِي،الَّذِيْنَ،اللّاَتِي


[1] Mohammad Nur Ichwan, Memahami Bahasa al-Qur’an (Yogyakarta: Celaban Timur, 2002), hal. 105.
[2] ‘Amil secara bahasa adalah sesuatu yang beramal, jadi kalau dalam bahasa arab ada kata yang bisa mempengaruhi akhir dari suatu lafadz, itulah yang disebut dengan ‘amil
[3] Abdurrohman bin Abdirrohman Syamilah, Syarah Matan al Jurumiyah, (Riyad: Daru Thibah, 1233),hal. 24-25
[4] Syekh Syamsuddin Muhammad Arra’ini, Ilmu Nahmu Terjemah Mutammimah Ajurumiyyah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2016) cet. ke-19, hal. 11-12.
                 [5] M. Sholihuddin Shofwan, Mabadi'  An-Nahwiyah, (Jombang: Darul Hikmah, 1999), 40
                 [6] Af’alul Khamsah adalah setiap kalimat fi’il mudhari’ yang tersambung dengan alif tasniyah, wau jama’, atau ya’ muannats tsalim.

Komentar